Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 April 2013

PENGEMBOSAN POLITIK EPISODE III?


Oleh: Ainur Rohim

"Saya ini seperti orang teler, setelah menenggak bir bintang langsung nyender di beringin, kemudian diseruduk banteng," tutur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika memberi sambutan pada acara perayaan Isra Miraj di Markas Golkar, Slipi, Jakarta menjelang Pemilu 1987.
Itulah gaya tokoh yang belum begitu lama duduk di pucuk pimpinan NU itu, di hadapan sekitar 2.000 undangan, termasuk Ketua Umum Golkar, Sudharmono dan Sekjennya, Sarwono. Dengan itu ia ingin menyatakan, NU berada di atas semua golongan.
Itu pernyataan Gus Dur, Ketua Umum PBNU, seperti dimuat majalah mingguan Tempo edisi 11 April 1987. Pernyataan itu disampaikan menjelang Pemilu 1987 dan pasca-NU secara legal-formal menyatakan kembali ke Khittah 1926 sesuai keputusan muktamar NU ke-27 di Pondok Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo, Jatim pada 1984. NU menjaga jarak yang sama dengan ketiga kekuatan sosial yang ada (PPP, Golkar, dan PDI). NU ada di mana-mana dan NU tak ke mana-mana. 

Sabtu, 23 Februari 2013

HAKIKAT MANUSIA


Pengetahuan tentang hakikat dan kedudukan manusia merupakan bagian amat esensial, karena dengan pengetahuan tersebut dapat diketahui tentang hakikat manusia, kedudukan dan peranannya di alam semesta ini. Pengetahuan ini sangat penting karena dalam proses pendidikan manusia bukan saja objek tetapi juga subjek, sehingga pendekatan yang harus dilakukan dan aspek yang diperlukan dapat direncanakan secara matang.
Para ahli dalam berbagai bidang memberikan penafsiran tentang hakikat manusia. Sastraprateja, misalnya. Ia mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang historis. Hakikat manusia sendiri adalah sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata datum. Hakikat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah dalam sejarah bangsa manusia. Apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian anthropological constants yaitu dorongan-dorongan atau orientasi yang tetap dimiliki manusia.

Kamis, 17 Januari 2013

KILAS PONDOK PESANTREN



Pondok pesantren[1] merupakan lembaga pendidikan Islam yang menempatkan sosok kyai sebagai tokoh sentral dan masjid sebagai pusat lembaganya.[2] Lembaga ini merupakan institusi pendidikan Islam tertua di Indonesia dan sekaligus bagian dari warisan budaya bangsa (indigenous culture).[3] Maka, bukanlah kebetulan jika pesantren masih dapat bertahan hingga saat ini.
Mereka yang pernah mengenyam pendidikan pesantren kemudian juga belajar di lembaga pendidikan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri pada umumnya memandang bahwa pesantren tetap memiliki tempat terhormat sebagai lembaga pendidikan Islam khas Indonesia yang dapat dirunut pertalian keilmuan dan kurikulumnya dengan pusat-pusat pembelajaran ilmu agama Islam diberbagai belahan dunia.
Optimisme itu biasanya mendasarkan pada bukti-bukti bahwa pesantren masih tetap terselenggara sejak ratusan tahun yang lalu, lulusannya dapat memainkan peranan yang berharga di bidang keilmuan atau kepemimpinan, dan belum ada lembaga pendidikan yang melahirkan ulama dari generasi ke generasi dalam kapasitas sebagaimana yang diluluskan oleh pesantren.
Seiring dengan perkembangan zaman, potensi pesantren sebagai intitusi pendidikan yang mengajarkan agaman dan penekanan moral dipertanyakan. Muhammad Busyro mengatakan jika dewasa ini pandangan masyarakat umum terhadap pesantren ada dua macam. Pertama, mereka yang menyangsikan relevansi lembaga ini untuk menyongsong masa depan. Kedua, mereka yang justru melihat pesantren sebagai sebuah alternatif model pendidikan masa depan.[4]
Melihat kenyataan ini, pondok pesantren mau tidak mau harus terbuka dengan dunia luar. Hal ini diulai sejak abad ke-20 dengan penerapan sistem konvergensi, yakni pemaduan kurikulum pesantren dengan kurikulum pemerintah. Sedikitnya ada dua cara yang dilakukan pondokpesantren dalam hal ini; pertama, merevisi kurikulum  dengan memasukkan semakin banyak mata pelajaran umum atau bahkan keterampilan umum; kedua, membuka kelembagaan dan fasilitas-fasilitas pendidikan bagi kepentingan pendidikan umum.[5]
Sistem konvergensi ini apabila dikelola dengan manajemen yang baik akan memberikan peluang dan harapan terhadap pesantren menjadi lembaga yang mampu berperan melaksanakan pendidikan secara integral antara penanaman akhlak al-karimah (moral) dan intelektual.
Abudin Nata (2003 : 43) menyebutkan; dewasa ini pendidikan Islam terus dihadapkan pada berbagai problema yang kian kompleks. karena itu upaya berbenah diri melalui penataan SDM, peningkatan kompetensi dan penguatan institusi mutlak harus dilakukan dan semua itu mustahil tanpa manajemen yang profesional.
Seperti diketahui bahwa sebagai sebuah sistem pendidikan Islam mengandung berbagai komponen yang saling berkaitan satu sama lain. Komponen tersebut meliputi landasan tujuan kurikulum kompetensi dan profesionalisme guru, pola hubungan guru dan murid, metodologi pembelajaran sarana prasarana evaluasi pembiayaan dan lain sebagainya. Berbagai komponen ini dilakukan tanpa perencanaan dan konsep yang matang seringkali berjalan apa adanya. alami dan tradisional akibat mutu pendidikan Islam acapkali menunjukkan keadaan yg kurang membanggakan.
Problematika yang dihadapi pondok pesantren dikarenakan adanya  kendala pada perencanaan pondok pesantren yang kurang optimal. sehingga dalam pelaksanaan fungsi tugasnya tdak berjalan sebagaimana yang diharapkan. juga  disebabkan  minimnya personil yang kompeten  pada  bidangnya,  dan  sumber  dana  kurang memadai.
Dalam penyusunan perencanaan program kerja hendaknya  diperhitungkan secara terperinci tentang kondisi obyektif pondok pesantren, pemasalahan, alternatif pemecahan, faktor pendukung dan penghambat program, prioritas pengembangan program, indikator keberhasilan dan langkah-langkah mencapai keberhasilan program, pengalokasian dan waktu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika perencanaan disusun dengan jelas dan bersifat terbuka serta rasional maka tujuan dapat mudah dicapai.


[1] Dalam bahasa Indonesia sering nama pondok dan pesantren dipergunakan juga sebagai sinonim untuk menyebut “pondok pesantren”. Lihat Mamfret Ziemek, Pesantren dalam Perubahan Sosial, (Jakarta; P3M, tt), 116. Istilah “pondok” sendiri diambil dari bahasa Arab “funduk” yang berarti asrama atau hotel, sebab santri dalam belajar dengan cara mukim yang membutuhkan tempat tinggal sekaligus tempat belajar dalam jangka waktu yang lama. Lihat Zamahsyari Dhofier, Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan HidupKyai, cet.VI, (Jakarta; LP3ES, 1994), 18
[2] Dawam Raharjo, Pesantren dan Pembaharuan, cet.V, (Jakarta; LP3ES, 1995), 87
[3] Amal Fathullah Zarkasyi, Pondok Pesantren sebagai Lembaga Pendidikan dan Dakwah, dalam Adi Sasono, Didin Hafiduddin, AM. Saefuddin, dkk, Solusi Islam atas Problematika Umat, cet.I, (Jakarta; Gema Insani Pers, 1998). 101-171
[4] Muhammad Busyro, Problem Pengembangan Tradisi Pesantren, dalam Abdul Munir Mulkham, Rekonstruksi Pendidikan dan Pustaka Tradisi Pesantren (Relegiusitas Iptek), (Yogyakarta; Fak Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga & Pustaka Pelajar, 1998), 186-199
[5] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam Tradisi dan Modernisasi menuju Milenium Baru, (Jakarta; PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), 102

Senin, 12 November 2012

ARTI NAMA-NAMA BULAN HIJRIYAH



Kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya, berbeda dengan kalender biasa (kalender Masehi) yang menggunakan peredaran matahari.
Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada jaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.
Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 - 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman Allah SWT: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (QS : At Taubah(9):36).
Sebelumnya, orang arab pra-kerasulan Rasulullah Muhammad SAW telah menggunakan bulan-bulan dalam kalender hijriyah ini. Hanya saja mereka tidak menetapkan ini tahun berapa, tetapi tahun apa. Misalnya saja kita mengetahui bahwa kelahiran Rasulullah SAW adalah di tahun gajah.

Sabtu, 29 September 2012

Peran Agama dan Budaya Dalam Mengatasi Dekadensi Moral Bangsa



Oleh: Coel Ipins

Prolog
Agama dibutuhkan sebagai upaya manusia untuk hidup dalam keadaan damai. Dalam Islam sendiri kedamaian tidak hanya kita butuhkan di dunia ini tapi juga di akhirat nanti. Nilai agama itu harus senantiasa masuk dalam setiap langkah kehidupan kita, baik dalam konteks bermasyarakat, berbangsa maupun beragama. Maka pandangan orang beragama terhadap suatu negara, misalkan, akan sangat berbeda dengan pandangan orang yang tidak beragama.
Sikap prilaku manusia, termasuk tata laku beragama, merupakan buah hasil dari hubungan dinamika timbal balik (resiprokal) antara tiga faktor. Ketiga-tiganya memainkan peranan dalam melahirkan tindakan insani, walaupun dalam tindakan antara satu faktor dan yang lain lebih besar peranannya dan dalam tindakan yang lain faktor lain juga lebih berperan. Ketika faktor dimaksud adalah a) sebuah gerak atau dorongan yang secara spontan dan alamiah terjadi pada manusia; b) ke-aku-an manusia sebagai inti-pusat kepribadiannya; dan c) situasi manusia atau lingkungan hidupnya.

Minggu, 28 Februari 2010

Maulid Nabi Muhammad SAW dalam Tradisi

Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW bermula pada masa pemerintahan Bani Taimiyah, kemudian dilanjuti pada masa pemerintahan Khalifah Bani Abbas oleh penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) Sultan Salahuddin Al Ayyubi (Soultan Saladin).
Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub, setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.
Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada musim Haji 579 H (1183 Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci kala itu, atas persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad, Sultan mengimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan Salahuddin merayakan tradisi ini selain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai cara membangkitkan semangat juang umat Islam yang kala itu kehilangan semangat juang dan persaudaraan ukhuwah ketika terjadi perang salib.

Senin, 15 Februari 2010

Harapan dan Kehidupan

by ; Mr. Cholphak

Saya ingin memberikan pembicaraan singkat di salah satu motto Carolina Selatan. Seperti Anda semua tahu, South Carolina memiliki dua motto. "Dipersiapkan dalam pikiran dan sumber daya," adalah salah satu moto, moto yang lain adalah, "Sementara aku bernapas, saya berharap." Saya ingin mengucapkan beberapa kata di moto kedua, dari sudut pandang rohani.

Ego & Emosi

By ; Mr. Cholphak's 

Ego emosi dan emosi adalah ego. Ego dan emosi adalah bagian depan dan kebalikan dari mata uang yang sama. Ada dua jenis ego. Satu ego adalah mengikat diri, berpusat pada diri sendiri. Lain melampaui ego diri dan semua berpelukan. Berpusat pada diri ego harus berubah menjadi melampaui diri, semua merangkul dan Allah-memuaskan ego. Melampaui ego diri ini adalah pengetahuan tentang kesatuan, kesatuan yang tidak terpisahkan dengan yang tak terbatas, yang Kekal, yang mutlak dan abadi.
Di dunia ini manusia memiliki dua harta signifikan: kecerdasan dan emosi. Kedua harta hari ini mengatur kehidupan kita. Tapi sangat sering kita melihat bahwa emosi mendapatkan tangan atas dalam hidup kita. Kita tahu bahwa bahkan jika seseorang sangat cerdas, ketika emosi datang kedepan, hal itu akan melahapnya. Dia dipaksa untuk melakukan apa yang emosinya meminta dia untuk melakukan.

Selasa, 15 Desember 2009

Kecewa ?

By ; Ipins 19

Setiap orang pasti pernah mengalami kecewa dalam hidupnya. Entah kecewa dengan orang tua, saudara, pasangan hidup, kekasih, teman. Baik itu mengalami keadaan yang tidak mengenakan di rumah, sekolah, tempat kerja atau usaha atau dimanapun anda berada. Mengalami kekecewaan, gue rasa semua orang ngga ada yang mau mengalami hal beginian. Mau marah, protes atau ngumpat-ngumpat, kadang-kadang tetap saja tidak bisa merubah keadaan. Kadang bikin hati tambah sakit dan kepala tambah pusing kalau memikirkannya.

Kamis, 12 November 2009

Menggapai Ketenangan Jiwa


By ; Ipins 19

Dalam perkembangan hidupnya, manusia seringkali berhadapan dengan berbagai masalah yang mengatasinya berat. Akibatnya timbul kecemasan, ketakutan dan ketidaktenangan, bahkan tidak sedikit manusia yang akhirnya kalap sehingga melakukan tindakan-tindakan yang semula dianggap tidak mungkin dilakukannya, baik melakukan kejahatan terhadap orang lain seperti banyak terjadi kes-kes pembunuhan termasuk pembunuhan terhadap anggota keluarga sendiri maupun melakukan kejahatan terhadap diri sendiri seperti meminum minuman keras dan ubat-ubat terlarang hingga tindakan bunuh diri. Oleh karena itu, ketenangan dan kedamaian jiwa sangat diperlukan dalam hidup ini yang terasa kian berat dihadapinya. Itu sebabnya, setiap orang ingin memiliki ketenangan jiwa. Dengan jiwa yang tenang kehidupan ini dapat dijalani secara teratur dan benar sebagaimana yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya. Untuk bisa menggapai ketenangan jiwa, banyak orang yang mencapainya dengan cara-cara yang tidak Islami, sehingga bukan ketenangan jiwa yang didapat tapi malah membawa kecelaruan dalam jiwanya itu. Untuk itu, secara tersurat, Al-Quran menyebutkan beberapa cara praktis.

Selasa, 10 November 2009

Refleksi Hari Pahlawan ; Ironi Kepahlawanan dalam Aktualisasi Mahasiswa



By ; Ipins 19

Refleksi Hari Pahlawan juga dapat dikaitkan dengan eksistensi mahasiswa. Sebab, mahasiswa dan patriotisme menjadi satu-kesatuan.
Patriotisme adalah perasaan cinta yang kuat terhadap tanah air. Setiap orang sudah dianugerahi rasa patriot. Rasa patriot itu dijadikan oleh setiap orang untuk menjalankan amanat. Cinta tanah air ini sudah pasti wujud di hati setiap individu masyarakat Indonesia yang berdaulat dan merdeka dalam usaha mencapai matlamat dan aspirasi negara.


Medan Perjuangan Sebelum Jadi Mahasiswa

Tidak dapat diingkari bahwa pada zaman penjajahan, para pemuda berjuang sangat keras dan gigih bersemangat tidak takut mengorbankan harta bahkan nyawa demi Negara dan bangsanya. Tatkala mereka berhasil memerdekakan bangsa, maka sangat wajar kalau diberi gelar pahlawan. Baik yang gugur maupun yang sempat menikmati zaman kemerdekaan. Atas jasa mereka menghancurkan dan mengusir penjajah, bisa hidup dalam negara yang diimpikan. Bebas dari belenggu penjajahan baik fisik maupun mental.

Tiap zaman menciptakan pahlawan. Mungkin hanya musuh dan medan perangnya yang berbeda. Namun nilai perjuangannya tetap sama. Anak-anak sekarang juga berjuang sangat keras menghadapi musuh yang bentuk serta wilayah yang sangat luas. Pertarungan satu lawan satu atau tawuran pada setiap waktu dan kesempatan. Tidak ada detik dan menit yang terlewat. Sehingga wajar bila seseorang yang berhasil tamat SMU dan masih tetap jadi anak baik sesuai dengan harapan orang tuanya, juga diberi gelar pahlawan.

Anak sekarang mulai dari bayi sudah menghadapi perjuangan keras. Musuhnya sangat banyak dan bisa berada di mana dan bentuk apa saja. Sebahagian besar bahkan berbahaya dan mematikan. Sang bayi harus berhadapan dengan keinginan ibunya untuk menambah pendapatan keluarga atau ingin tetap cantik dalam memperebutkan ASI. Makanan susu kaleng dihidangkan tanpa anak mampu membantah, padahal memiliki kandungan racun yang mematikan.

Kala sang anak mula bermain. Berlapis musuh sudah menghadang. Permainan elektronik yang mempengaruhi syaraf dan pikiran datang bertubi menyerang, baik dari internal (orang tua) maupun eksternal (lingkungan). Sebagian orang tua bahkan berada pada posisi sang musuh. Makin besar sang anak, musuhpun semakin banyak. Posisi orang tua dan guru sebagai pendidik dan pengajar sebagian direbut oleh media tontonan yang tak pantas menjadi tontonan dan tuntunan.

Bertambah dewasa, remaja menghadapi musuh hampir di seantero sudut hidupnya. Interaksi dengan dunia luar yang melibatkan fisik maupun visual bukan serangan yang enteng. Terjajah atau merdeka. Bagi yang dilengkapi fasilitas cukup, tetap di rumah atau menyendiri dalam ruangan juga sama bahayanya dengan bergaul tak jelas di luar rumah. Kekerasan di dunia nyata tidak lebih berat dari kekerasan dunia maya.

Unjuk rasa itu merupakan ciri negatif yang melekat pada mahasiswa. Sukarno menyatakan dapat mengubah dunia bila diberikan sepuluh pemuda. Peran untuk mahasiswa untuk mengubah suatu keadaan di negara manapun memang sangat signifikan. Unjuk rasa merupakan protes yang dilakukan secara massal yang istilah sekarang disebut demonstrasi. Unjuk rasa sebenarnya merupakan salah satu cara untuk menyampaikan pendapat, dan jelas bukan merupakan cara untuk melepaskan kemarahan, kegeraman, kegusaran, atau unjuk kekuatan fisik. Hal ini dilakukan bila jalur komunikasi sudah tidak lagi terjalin dengan baik. Demonstrasi juga bisa hanya sekadar mencari perhatian, meningkatkan nilai tawar atau memang untuk menekan pihak yang didemonstrasikan.

Demonstrasi yang baik biasanya memiliki isu yang akan dikomunikasikan sebagai tema perjuangan. Tujuannya dipahami para demonstran dan perilaku peserta mampu dikordinir dengan baik. Setiap demonstran harus bisa menjawab tujuan melakukan demonstrasi, pesan apa yang akan disampaikan, siapa yang jadi target penerima pesan, apa yang ingin dicapai, mengapa ikut sebagai demonstran dan apa dukungan atau simpati yang akan digalang dari masyarakat.

Fakta juga menunjukkan bahwa kreadibilitas dan nilai perjuangan yang disampaikan pada suatu demonstrasi dapat melorot bila para demonstran tidak tahu tujuan demonstrasi secara jelas. Istilah demonstran bayaran, demonstran pesanan, demonstran zomnie mulai meluncurkan citra suatu "episode" demonstrasi pada sebagian besar bangsa kita saat ini.

Kekerasan dalam Demonstrasi & Unjuk Rasa

Karena ada dua pihak yang berseberangan, maka  hampir di setiap unjuk rasa akan ada perbenturan. Perbenturan sebenarnya bisa dihindari kalau kedua belah pihak tetap mengemukakan akal sehat. Bila tidak, perbuatan anarkis dan premanisme akan terjadi. Tidak ada lagi beda rasional dan emosional, konstruktif dan destruktif, orang tua dan anak-anak, budi pekerti dan kezaliman.

Ada pernyataan yang menanggapi negatif masalah demonstrasi akhir-akhir ini. Zaman dulu juga ada demonstrasi, tapi tidak sebrutal sekarang. Demonstrasi dulu terorganisir dengan rapi, berwibawa karena tujuan dan pesan jelas dan mendapat dukungan dari masyarakat luas. Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa saat ini terkesan kurang terkelola dengan baik, struktur organisasi tidak jelas, ikatan sesama demonstran kurang kuat, tujuan tidak dipahami atau belum disepakati bersama, tidak memicu perilaku anarkis, maka para demonstran akan bingung. Dalam situasi "rusuh" mereka tidak tahu berbuat apa. Dapat saja terjadi benturan sesama demonstran, atau antara demonstran dengan masyarakat umum. Dalam situasi tidak terkendali, sifat agresif akan muncul. Tindakan anarkis dan destruktif akan terjadi berskala naik seperti memaki, melempar, membakar, menghancurkan. Korbannya tentu saja fasilitas di lokasi target baik milik pribadi maupun umum. Artinya, cara penyampaiannya yang tidak baik.

Bila dilihat dari segi pelakunya, perilaku anarkis dalam berdemonstrasi bila saja hanya sebagai perwujudan frustasi atau munculnya sikap alam bawah sadar pelaku demonstrasi selama ini terpendam dalam. Perjuangan berat sedari bayi hingga melewati masa remaja yang selama ini merupakan diorama dan terpatri dalam hati, akan kebangkitan dalam gejolak massa. Jadilah demonstrasi sebagai pelampiasan kegeraman atau perlawanan. Apalagi media massa cetak dan elektronik juga selalu menampilkan perilaku kekerasan atau contoh langsung kerumunan massa yang berbuat anarkis.

Bergabunglah kelompok kaum frustasi dan yang telah atau merasa terzalimi. Bergabunglah kelompok yang ingin menyampaikan pesan untuk mencapai tujuan dengan kelompok yang tersulut emosi. Mungkin juga ada yang coba memunculkan jati diri palsu yang jadi obsesinya karena dipupuk kondisi lingkungannya. Menyatulah rasa perlawanan atas kekalahan yang selalu mewarnai kehidupannya dalam persaingan demi persaingan setiap episode hidupnya selama ini.

Demonstrasi dengan kekerasan biasanya dipicu semangat kebersamaan semu. Merasa memiliki identitas yang sama karena bergerak bersama. Merasa akan tersisih dari kelompok bila tidak berbuat bersama, atau merasa pahlawan bila bisa berbuat lebih hebat dari yang lain.

Jadi pemimpin di masa mendatang tidak mudah. Pada era komunikasi dan masyarakat makin melek informasi serta menjunjung nilai demokrasi, unjuk rasa dapat saja jadi budaya bangsa.

Kamis, 23 Juli 2009


Jika anak dibesarkan dengan celaan ia belajar memaki,
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi, 
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan ia selalu menyesali diri, 
Jika anak dibesarkan dengan toleransi ia belajar menahan diri, 
Jika anak dibesarkan dengan motivasi ia belajar percaya diri, 
Jika anak dibesarkan dengan dukungan ia belajar menghargai, 
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan ia belajar keadilan,
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman ia belajar menaruh kepercayaan, 
Dan jika anak dibesarkan dalam keluarga yang penuh rasa kasih sayang dan persahabatan ia akan belajar menemukan cinta dalam setiap peristiwa kehidupan........... 

Kelak ajari Anak-anak kalian hal2 yang baik dan Benar

Selamat Hari Anak Nasional

23 Juli 2009

Sejarah Hari Anak Nasional


"Anak adalah amanah yang di amanahkan oleh Tuhan untuk slalu kita bina & didik, karena esok akan dipertanggung jawabkan"

Peringatan Hari Anak Nasional yang jatuh setiap tanggal 23 Juli ternyata berbeda-beda pada tiap negara. Hari anak yang benar-benar dirayakan oleh seluruh dunia adalah pada tanggal 20 November. Tanggal tersebut diumumkan oleh PBB sebagai hari anak-anak sedunia. Organisasi anak di bawah PBB, yaitu UNICEF untuk pertama kali menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia pada bulan Oktober tahun 1953. Tanggal 14 Desember 1954, Majelis Umum PBB lewat sebuah resolusi mengumumkan satu hari tertentu dalam setahun sebagai hari anak se-dunia yaitu pada tanggal 20 November.
Sejak tahun 1954 hingga hari ini, jumlah negara yang menyelenggarakan peringatan hari anak sedunia telah meningkat dari 50 menjadi 150 negara. Melalui peringatan tersebut, masalah dan problem yang dihadapi anak-anak di dunia menjadi bahan perhatian negara-negara, organisasi dan lembaga-lembaga internasional. Melalui peringatan itu juga, berbagai sumber mengajukan laporan data statistik terbaru mengenai keadaan anak-anak, masalah dan kesulitan yang mereka hadapi serta kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. Sebagian dari data itu menyingkap realita pahit kehidupan jutaan anak di seluruh dunia yang hidup serba berkekurangan yang selalu bergelut dengan krisis makanan, kesehatan, pendidikan dan sebagainya.
Di antara hak-hak asasi manusia adalah hak untuk memperoleh kebebasan, keadilan dan kedamaian di dunia. Dalam hal ini, anak-anak lebih memerlukan perhatian, dukungan dan keamanan di banding kelompok umur yang lain. Masa depan dunia yang lebih baik memerlukan dukungan kesehatan mental dan keamanan anak-anak. Berkenaan dengan ini, Majelis Umum PBB mengesahkan sebuah piagam yang disebutnya sebagai Konvensi Hak Anak-anak Se-Dunia. Seluruh negara di dunia selain Amerika dan Somalia ikut dalam konvensi tersebut. UNICEF dengan pengesahan piagam tersebut berarti telah mengambil tindakan penyamaan seluruh anak di dunia dengan berbagai ragam ras dan etnisnya. Unicef menegaskan, tanpa diskriminasi apapun, anak-anak di dunia harus diberi perlindungan khusus oleh seluruh negara di dunia. Meskipun pengesahan piagam tersebut, merupakan langkah yang cukup berarti dalam merealisasikan hak anak-anak, akan tetapi para pemimpin dunia masih merasa perlu untuk menandatangani kesepakatan mengenai perbaikan kondisi anak-anak dunia dalam sidang tahun 1991. Namun demikian, sampai awal milineum ketiga ini, kondisi kehidupan anak-anak dunia masih belum menunjukkan perbaikan yang memuaskan.
Sebelum ini, masyarakat dunia telah menjanjikan akan menjadikan dekade pertama awal abad 21, sebagai dasawarsa budaya perdamaian dunia dan menolak kekerasan terhadap anak-anak. Namun, justru pada dasawarsa ini setiap harinya terdengar berita perang dan kekerasan yang memakan korban anak-anak. Perang-perang yang meletus akibat dendam dan permusuhan itu telah merampas rasa aman, penghormatan, kasih sayang dan perhatian dari anak-anak.
Salah satu contoh nyata ialah anak-anak Palestina yang tertindas, yang menyaksikan kehancuran rumah-rumah mereka dan ditawannya saudara-saudara mereka oleh tentara rezim Zionis. Anak-anak ini tidak lagi memiliki kesempatan belajar dan tak sedikit pula yang gugur sebagai syahid setelah ditembus peluru tentera Zionis.
Berdasarkan laporan Organisasi Pembela Korban Kekerasan pada dekade lalu, dalam bentrokan militer yang terjadi di seluruh dunia, sebanyak 30 juta anak menjadi korbannya dengan berbagai cara. Dalam peperangan-peperangan itu, sekitar dua juta anak tewas, lebih dari satu juta anak kehilangan orangtua mereka dan 6 juta anak luka dan cacat. Laporan itu juga menambahkan, sepanjang masa tersebut 12 juta anak kehilangan tempat tinggal sementara 10 juta anak lainnya mengalami gangguan psikologis hebat. Kondisi yang menyedihkan terdapat juga pada anak-anak yang dipenjara di sejumlah negara termasuk Sudan.
Selain dari itu semua setiap tahunnya lebih dari 700 anak menjadi korban penyeludupan manusia. Mereka diperdagangkan layaknya budak. Dalam hal ini PBB melaporkan bahwa permintaan akan tenaga kerja murah begitu banyak, dan kebutuhan akan anak-anak perempuan dan lelaki dalam perniagaan seks semakin meningkat.
Organisasi buruh dunia dalam laporannya juga menyinggung, sebanyak 245 juta anak usia 5 hingga 17 tahun di seluruh dunia menjadi tenaga pekerja. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8 juta 400 ribu anak lelaki dan perempuan menjadi korban aktivitas ilegal seperti perbudakan, penyeludupan manusia, exploitasi seks dan dipaksa terjun ke medan militer. Perlu juga dicatat bahwa sebanyak 2 juta anak dari jumlah tersebut dimanfaatkan untuk keperluan seks dan pornografi.
Selain dari perang dan dampak buruknya bagi anak-anak di seluruh dunia, kemiskinan juga menjadi hal serius yang dihadapi oleh anak-anak. Berlandaskan laporan Unicef, di dunia saat ini terdapat 2,1 milyar anak. Dari jumlah itu setiap satu dari empat anak hidup dalam kemiskinan total. Angka ini pada negara-negara sedang membangun lebih besar dengan perbandingan satu dibanding tiga orang. Dari setiap 12 anak di dunia, seorang anak di bawah usia lima tahun meninggal karena penyakit yang tidak bisa diobati dan 300 juta anak lagi menanggung kelaparan. 130 juta anak tidak memiliki kesempatan belajar di sekolah dasar, di mana 60 persen dari jumlah tersebut adalah anak-anak perempuan. Selain dari ini lebih dari 50 juta anak dan atau 41 persen dari bayi di seluruh dunia tidak mempunyai akta kelahiran. Secara realitas, ia tidak termasuk anggota masyarakat dan tidak bisa mendapat hak seperti anak-anak lain seperti pendidikan dan kesehatan cuma-cuma. Dari sudut ini, ketika menginjak usia dewasa, dia tentu tidak akan mendapat hak-hak sosial. Anak-anak seperti ini yang tidak memiliki surat pengenal dengan mudah menjadi korban penyeludupan anak-anak atau jaringan mafia lainnya.
Inilah realita pahit dan memilukan dari kondisi kehidupan anak-anak di dunia. Untuk melindungi anak-anak yang merupakan generasi mendatang dunia, seluruh negara harus bersama-sama memikul tanggungjawab. Dengan demikian, kesulitan dan problema kehidupan anak-anak akan berhasil ditekan untuk kemudian melangkah ke arah realisasi hak-hak mereka.
Dalam agama Islam, anak-anak memiliki hak-hak khusus. Islam bahkan menggolongkan pendidikan anak yang benar sebagai ibadah. Tidak hanya itu, pandangan kasih sayang juga terhitung sebagai amal kebajikan. Oleh yang demikian, menghormati kedudukan dan kemuliaan anak-anak adalah perlu di setiap situasi dan kondisi.
Hak anak-anak, hak keluarga dan hak manusia, sudah dijelaskan dalam ajaran Islam. Islam telah menjelaskannya lebih lengkap dari apa yang dipaparkan oleh piagam hak Asasi Manusia atau Konvensi Hak Anak Sedunia. Salah satu kelebihan Islam ialah selain menyodorkan undang-undang dan metode, juga menyuguhkan teladan hidup. Nabi Muhammad saaw, berulang kali menekankan perlunya untuk menghormati hak-hak anak dan memperlakukan mereka dengan kasih sayang.
Data yang ada menunjukkan bahwa dalam dekade lalu, janji-janji lebih besar dari realisasi. Negara, organisasi dan lembaga-lembaga internasional serta seluruh pakar masalah anak harus mengambil pelajaran besar dari pengalaman dasawarsa lalu, untuk mengambil langkah bagi merealisasikan hak anak-anak. Karena anak-anak merupakan investasi terbaik bagi sebuah kemajuan dan pembangunan.
Marilah kita hadiahkan secercah harapan dan kegembiraan kepada anak-anak di dunia yang selama bertahun-tahun menjadi korban utama perang. Dunia anak-anak harus menjadi sebuah dunia yang sehat, penuh keriangan dan semangat, bukan dipenuhi dengan pencemaran dan perang atau gangguan dan kekerasan.

Sumber ; http://yunior.ampl.or.id


Selasa, 21 Juli 2009

Ketika Aku Harus Kehilangan



By ; Syamsul Arifin*
Pernahkah, kita mengalami suatu cobaan dan sakit… pastinya semua orang pernah mengalami… Adakah, kita merasa hidup sendiri di dunia ini, disaat kita butuh perhatian, butuh dukungan,butuh kasih sayang, butuh kekuatan, namun itu tidak pernah dirasakan dari orang-orang yang dekat dengan ku.

Mengapa semua nya begitu jauh………….
Sehingga aku harus jauh dari segalanya……….
Terkadang…. Justru orang lain yang tau keadaan kita…

Aku suka menolong, karena aku merasa, tetanggalah saudaraku yang terdekat, sehingga jika aku mengalami cobaan, tetanggalah orang tuaku. Walaupun dihati kecilku, ingin kurasakan kasih sayang dari orang yang aku sayangi, dimana aku bisa mengadu, berkeluh kesah, bermanja, mengapa semuanya begitu jauh….

Hati kecilku berkata… “kutak ingin kehilangan orang yang aku sanyangi.” yang sampai kapanpun akan tetep sayang. Apa yang kumiliki dan Allah berikan, akan selalu kujaga.

“Tak ada satupun hamba-ku yang ikhlas kuambil harta yang kuberikan padanya, kecuali kuganti dengan yang lebih baik. Tidak ada satupun hambaku yang Ridho dengan bala yang kutimpakan padanya,kecuali kunaikkan derajatnya, dan tidak satupun hambaku yang bersyukur kecuali kutambah nikmatku padanya”(hadist qudsi)
* Awal perenengun ketika lagi ...