Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Mei 2013

HASIL UNAS 2013

Hasil Ujian Nasional (Unas) tahun 2013 untuk jenjang SMA/SMK/MA telah diumumkan secara serentak pada hari Jum’at (24/05/2013) kemarin. Dari berbagai berita yang dipublikasikan di Kompas.com, diperoleh informasi bahwa dalam Ujian Nasional tahun 2013 terdapat 12 (dua belas) siswa yang  memperoleh nilai UN murni tertinggi se-Indonesia dan 10 (sepuluh) sekolah dengan rata-rata nilai murni tertinggi Unas se-Indonesia.

Sabtu, 23 Februari 2013

HAKIKAT MANUSIA


Pengetahuan tentang hakikat dan kedudukan manusia merupakan bagian amat esensial, karena dengan pengetahuan tersebut dapat diketahui tentang hakikat manusia, kedudukan dan peranannya di alam semesta ini. Pengetahuan ini sangat penting karena dalam proses pendidikan manusia bukan saja objek tetapi juga subjek, sehingga pendekatan yang harus dilakukan dan aspek yang diperlukan dapat direncanakan secara matang.
Para ahli dalam berbagai bidang memberikan penafsiran tentang hakikat manusia. Sastraprateja, misalnya. Ia mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang historis. Hakikat manusia sendiri adalah sejarah, suatu peristiwa yang bukan semata-mata datum. Hakikat manusia hanya dapat dilihat dalam perjalanan sejarah dalam sejarah bangsa manusia. Apa yang kita peroleh dari pengamatan kita atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian anthropological constants yaitu dorongan-dorongan atau orientasi yang tetap dimiliki manusia.

Sabtu, 16 Februari 2013

SPESIFIKASI BAHASAN AWAL ILMU PENDIDIKAN ISLAM



A.  Dasar Ilmu Pendidikan Islam

1.  Dalam nomenklatur Islamic studies, sebagai pandangan baru. |akhir abad ke-20| kaum muslim memikirkan perlunya meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan Islam dalam berbagai aspek.

2. Awal tahun 2000-an, penelitian pada ilmu pendidikan Islam dilakukan dengan pendekatan yang berlandaskan al-Qur’an dan Hadits, Sejarah, Filsafat, Psikologi, dan pengembangan masyarakat modern.

3.  Kerancuan dasar dan konsep yang mengarahkan pada pertumbuhan dan perkembangan ilmu pendidikan Islam,  antara education (menuju ilmu yang bersifat terbuka, luas, dan menuntut redefinisi secara terus menerus) dan paedagogie (menuju ilmu yang bersifat terbatas, konsentris, dan menuntut pendalaman, serta secara terus menerus).

4. Mutu pendidikan Islam yang jauh tertinggal dari ilmu pendidikan umum. Hal ini disebabkan lembaga-lembaga pendidikan Islam masih belum terencana dan terkonsep.

5. Mayoritas penduduk Indonesia Muslim. Lembaga pendidikan Islam secara otomatis mendominasi, baik pesantren, madrasah, dll. Sehingga bisa diasumsikan jumlah lembaga lebih banyak dan tidak terkontrol.


Minggu, 03 Oktober 2010

"Problematika Pendidikan di Indonesia & Solusi Pemecahannya"

PENDAHULUAN
Salah satu prasarat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera adalah lebih di tentukan oleh sejauh mana kuwalitas sumber daya masyarakatnya. Kwalitas suatu bangsa sangat di tentukan oleh peran serta mutu pendidikan yang di pergunakan oleh bangsa tersebut. Masyarakat yang berperadaban adalah masyarakat yang berpendidikan. Dalam hal ini Muhammad Naquib al-Attas dalam konsep pendidikan Islam mengatakan, menurutnya pendidikan islam itu lebih tepat diistilahkan dengan ta’dib di bandingkan dengan istilah tarbiyah atau ta’lim, sebab dengan konsep ta’dib , pendidikan akan memberikan adabatau kebudayaan.[1] Gambaran serupa juga di kemukakan oleh seorang pendidik besar Perancis yang hidup pada sekitar abad ke-19dalam sebuah buku yang terkenal “Aqeuitient Superiorite de Anglo Saxons” (Superiornya bangsa Inggris) yang terbit tahun 1897, dalam salah satu bab terpentingnya berjudul “New Education” menyatakan: Kalau kita hendak menyimpulkan jawaban tentang persoalan masyarakat dalam suatu patah kata, maka kata itu ialah “Pendidikan”.[2] Dan sesungguhnya dalam menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat adalah bertujuan supaya membiasakan diri untuk mengantisipasi setiap peristiwa baru di dunia ini, agar manusia mampu berjuang dengan tenaganya sendiri.Menyadari beratnya tantangan perkembangan zaman ke depan ,  sistem pendidikan yang ada sekarang ini haruslah mampu menyesuaiakan diri dengan koindisi riil  dan mampu menjawab berbagai problematika yang ada di dalamnya. Problematika kehidupan yang semakin berat inilah yang menjadi beban utama pendidikan saat ini. Melalui penulisan makalah singkat ini, penulis ingin  mengungkap tentang problematika pendidikan di maksud  sekaligus mencoba mencari solusi pemecahannya.

Rabu, 14 Juli 2010

Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren ; Sebuah Pilihan Sejarah


Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M. Bakker, SJ; 2000: 22). Kenyataan ini nampaknya amat begitu diinsafi oleh para designer awal dan founding fathers bangsa ini, hingga kemudian cita-cita yang megkristal dalam tujuan pendidikan nasional (Mukaddimah UUD '45) kita, betul-betul terarah ke pengertian seperti itu.
Dalam prakteknya, pengejawantahan cita-cita pendidikan nasional, nampaknya tidak harus melulu ditempuh melalui jalur formal secara berjenjang (hierarchies), yang dilaksanakan mulai dari Pendidikan Pra-Sekolah (PP. No. 27 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Dasar (PP. No. 28 Tahun 1990), Pendidikan Sekolah Menengah (PP. No. 29 Tahun 1990) dan Pendidikan Perguruan Tinggi (PP. No. 30 Tahun 1990), akan tetapi juga mengabsahkan pelaksanaan pendidikan secara non-formal dan in-formal (pendidikan luar sekolah) (UU Sisdiknas, 2003). Artikulasi pendidikan terakhir ini, basisnya diperkuat mulai dari pendidikan di lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan swasta.

Minggu, 11 Juli 2010

Reformasi Pendidikan ; Abad 20-21


Reformasi pendidikan pada awal abad ke-20
Usaha reformasi pendidikan Islam di Indonesia merupakan telah dilakukan oleh masyarakat muslim sejak awal abad ke-20. usaha ini bukan saja merumuskan cita-cita pendidikan, yang pada akhirnya juga menuntut pembaharuan kurikulum, tapi juga pembenahan kelembagaan untuk disesuaikan dengan tuntutan perkembangan baru. Dalam keberadaan ini sesungguhnya tidak lepas dari pesantren dan madrasah yang berkembang dalam sejarah Islam di Indonesia.[1]
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan mempunyai tujuan yang dirumuskan dengan jelas sebagai acuan program pendidikan yang diselenggaraknnya. Professor Mastuhu menjelaskan, bahwa tujuan utama pesantren adalah untuk mencapai hikmah atau wisdom (kebijaksanaan) berdasarkan pada ajaran Islam yang dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman tentang arti kehidupan serta realisasi dan peran-peran dan tanggung jawab sosial.[2] Setiap santri diharapkan menjadi orang yang wise (bijaksana) dalam menyikapi kehidupan ini. Dalam bahasa pesantren, wise bisa dicapai ketika santri menjadi seorang yang ‘alim, shalih, dan nasyir al-‘ilm.[3]

Kamis, 24 Juni 2010

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) ; Menuntut Guru Berkualitas & Profesional

ABSTRAKMakalah ini ditulis dengan tujuan: (1) memacu guru atau calon guru agar meningkatkan kualitas sehingga dapat berperan aktif dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan; (2) Agar guru memiliki motivasi yang tinggi untuk mencari dan menerapkan inovasi metode mengajar sehingga pengajaran lebih variatif.
Terkait dengan upaya peningkatan profesionalisme guru, maka langkah-langkah yang harus dilaksankan antara lain; (1) mengoptimalkan diklat guru melalui pemberdayaan forum MGMP, PKG ataupun KKG; (2) melaksankan uji kompetensi guru secara menyeluruh untuk mengetahui peta kompetensi guru; (3) Optimalisasi supervisi kepala sekolah kepada guru; (4) pendidikan guru menimal S1

Sabtu, 23 Januari 2010

Pendekatan dalam Teori-Teori Pendidikan

By ; Ipins 19

Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu: (1) pendidikan sebagai praktik dan (2) pendidikan sebagai teori. Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (baca: peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan, meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas.
Diantara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan.
Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya: (1) pendekatan sains; (2) pendekatan filosofi; dan (3) pendekatan religi. (Uyoh Sadulloh, 1994).