Selasa, 11 Juni 2013

KETIKA ASA TAK LAGI BERPIHAK

"Sekuat apapun kita berusaha, 
senekat apapun kita beraksi. 
Akan tetapi, Tuhan lah yang mengatur semuanya".

Mungkin prakata itu bisa menggambarkan dari sosok seorang lelaki, sebut saja Arif, yang senantiasa berusaha untuk mengungkapkan kata kejujuran yang sudah lama tersembunyi dibalik ketakutannya untuk mengungkap kata. Entah karena ia takut, tidak percaya diri, atau yang lainnya. Sehingga ia pun terpuruk dalam penyesalan atas kegagalan yang "terlambat" diungkapkan.

Senin, 27 Mei 2013

HASIL UNAS 2013

Hasil Ujian Nasional (Unas) tahun 2013 untuk jenjang SMA/SMK/MA telah diumumkan secara serentak pada hari Jum’at (24/05/2013) kemarin. Dari berbagai berita yang dipublikasikan di Kompas.com, diperoleh informasi bahwa dalam Ujian Nasional tahun 2013 terdapat 12 (dua belas) siswa yang  memperoleh nilai UN murni tertinggi se-Indonesia dan 10 (sepuluh) sekolah dengan rata-rata nilai murni tertinggi Unas se-Indonesia.

Minggu, 21 April 2013

PENGEMBOSAN POLITIK EPISODE III?


Oleh: Ainur Rohim

"Saya ini seperti orang teler, setelah menenggak bir bintang langsung nyender di beringin, kemudian diseruduk banteng," tutur KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika memberi sambutan pada acara perayaan Isra Miraj di Markas Golkar, Slipi, Jakarta menjelang Pemilu 1987.
Itulah gaya tokoh yang belum begitu lama duduk di pucuk pimpinan NU itu, di hadapan sekitar 2.000 undangan, termasuk Ketua Umum Golkar, Sudharmono dan Sekjennya, Sarwono. Dengan itu ia ingin menyatakan, NU berada di atas semua golongan.
Itu pernyataan Gus Dur, Ketua Umum PBNU, seperti dimuat majalah mingguan Tempo edisi 11 April 1987. Pernyataan itu disampaikan menjelang Pemilu 1987 dan pasca-NU secara legal-formal menyatakan kembali ke Khittah 1926 sesuai keputusan muktamar NU ke-27 di Pondok Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo, Jatim pada 1984. NU menjaga jarak yang sama dengan ketiga kekuatan sosial yang ada (PPP, Golkar, dan PDI). NU ada di mana-mana dan NU tak ke mana-mana. 

Sabtu, 30 Maret 2013

CATATAN BUAT BAPAK TERCINTA


Teringat pepetah bahwa "penyesalan akan terlihat dibelakang hari bukan di depan". Sepenggal kata itu mengingatkanku akan sosok tauladan yang telah bersusah payah mendidik dan membimbingku dari usia bayi sampai saat ini. Dari masa dimana aku belum mengerti tentang sesuatu sampai aku benar-benar sedikit memahami tentang makna perjuangan dan usaha hebat darinya.
Pelajaran berharga tanpa harus didasari dengan metode formal seperti saat sekolah. Memberikan gambaran yang jelas tentang keuletan usaha dan pengorbanan tanpa pamrih yang selalu ia tunjukkan. Tak perduli terik, hujan dan angin. Ia senantiasa berjuang demi melaksanakan tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga dan mencerminkan bahwa dirinya benar-benar bertanggungjawab akan keluarganya.